Kamu.. Yang Kulihat Selama 48 Jam

            Terbaring lemah di ruangan serba putih dengan selang infus yang bertengger indah di pergelangan tangan kiri. Sungguh, itu bukanlah sesuatu yang menyenangkan bagi siapapun termasuk Dera. Remaja berusia 17 tahun yang dengan terpaksa harus mendekam di suatu tempat bernama Rumah Sakit.

Memang tidak menyenangkan hingga seluruh perhatian Dera tercurah untuk seorang lelaki. Bukan dokter dan bukan perawat di rumah sakit. Lelaki yang dapat mengubah tangis Dera menjadi senyuman hanya dengan melihatnya. Lelaki yang dapat menenangkan hati Dera hanya dengan bahasa tubuhnya.

Entah sudah berapa lama Dera di tawan oleh rasa kagumnya sendiri. Seperti sekarang ini. Hari pertama Dera berada di ruangan Mawar III Perempuan. Pemuda itu terus lalu lalang di depan bola mata Dera. Membuat Dera tidak rela berkedip walau hanya sedetik. Ya, terlalu berharga mungkin.

Lelaki itu nampak sibuk menuangkan sesuatu ke sebuah mangkuk yang lumayan besar. Ya, tentu saja itu makanan berkuah, pikir Dera. Setiap gerakannya begitu sempurna di mata Dera. Terlalu sayang untuk di lewatkan.

Hanya saja.. Ada tanda tanya besar di kepala Dera sejak ia diam-diam memperhatikan laki-laki itu. Siapa gerangan yang ia kunjungi di ruangan ini? Mengapa tirai biru itu tak pernah terbuka? Mengapa ia tak pernah memperlihatkan orang yang ia jenguk?

“Tidak masalah siapa yang kau jenguk. Toh, aku masih bisa melihatmu dari kejauhan”. Ujar Dera pada dirinya sendiri. Menyunggingkan senyum simpul dan kembali menautkan pandangannya pada lelaki itu.

Berbicara. Tersenyum. Tertawa. Bernyanyi. Itulah yang lelaki misterius itu kerjakan. Bersenandung ria untuk seseorang yang terhalang oleh tirai biru. Seseorang yang sangat ingin Dera ketahui. Menit demi menit, semua pertanyaan yang ada di kepala Dera terus menghantuinya. Seakan meminta untuk di jawab. Meminta untuk di pecahkan.

Tak terasa 1 jam sudah berlalu. Dera baru tersadar. Di gosok-gosoknya matanya dan melihat ke sekeliling. Tak ada siapa-siapa yang menemaninya. Tidak seperti seorang di balik tirai itu yang bertemankan lelaki gagah nan setia. Setia menemaninya.

Dera meluruskan kakinya ke depan sembari menutup tirai yang berada di sampingnya. Terlalu penat untuk memperhatikan si pemuda itu. Mungkin, esok hari ia masih akan berada di sana meski bukan untuknya. Ya, setidaknya itulah harapan Dera untuk malam ini.

*****

            Jarum pendek jam dinding yang menempel di samping tempat tidur Dera telah menunjukkan pukul 3 sore. Seperti biasa, Dera siaga duduk di atas tempat tidur dengan senyuman yang masih berseri. Menanti kedatangan si lelaki misterius. Kali ini, apa yang akan di bawanya? Apa yang akan di lakukannya?

Sedetik kemudian, raut wajah bahagia Dera perlahan sirna. Tersisa sorot mata letih. Terjadi beberapa perkelahian dalam batin Dera. Bagaimana jika lelaki itu datang dengan sebuah bunga? Bagaimana jika seseorang di balik tirai itu adalah kekasihnya? Bagaimana jika nanti lelaki itu tahu bahwa Dera menaruh hati padanya? Bagaimana jika.. Ah, sudah terlalu banyak, umpat Dera.

Geram. Ya, itulah yang ia rasakan. Dengan cepat, di tutupnya tirai itu. Tak ingin lagi melihat wajah si lelaki yang beberapa jam ini telah meracuni hati dan pikirannya. Entahlah. Dera terlalu takut jika harus membayangkan apa yang akan di lihatnya saat tirai yang menutupinya ini terbuka.

Dera memejamkan matanya. Takut untuk membukanya. Perasaan takutnya begitu besar. Berkecamuk dan meronta-ronta pada batinnya. Akankah ia terluka sebelum mencoba? Hanya Dera yang tahu. Ya, hanya Dera.

Nampaknya, waktu berpihak pada Dera. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam dan tirai yang Dera takutkan untuk di buka masih juga tertutup.

Ada rasa rindu yang mulai melambung saat menatap tirai itu. Rindu akan sosok si lelaki. Jarum panjang jam dinding mulai bergerak ke angka 3. Itu artinya, sudah hampir 15 menit Dera melakukan perundingan dengan batinnya. Harus membuka tirai ataukah harus membiarkannya tertutup?

Perasaannya kembali berkecamuk. Perlahan, di ulurkanya tangan putih mulusnya menggapai tirai itu. Membukanya perlahan. Menarik nafas panjang dan mempersiapkan diri untuk menerima apapun yang akan di lihatnya.

Dera terdiam. Tangannya masih menggenggam tirai itu. Tidak. Ia tidak terdiam karena kecewa. Tentu saja tidak dengan pemandangan yang tersaji di hadapannya. Seorang pemuda dengan senyum penuh ketulusan nampak menuntun seorang wanita paruh baya ke kursi roda. Tirai itu telah terbuka. Terbuka dan memperlihatkan siapa yang terbaring disana.

Cairan bening mulai jatuh di pipi merah-muda Dera. Wajahnya panas. Tangannya mencengkram erat tirai yang ia pegang. Pemuda itu terlihat bercanda dengan wanita paru baya yang Dera yakini adalah ibu dari sosok yang ia kagumi. Ya, tidak selamanya prasangka itu benar. Itulah yang Dera dapatkan.

Mungkin Dera terlalu sibuk membendung rasa harunya hingga tak menyadari ketika si lelaki menepuk lembut bahu Dera. Salah tingkah, tentu saja. Dera mencoba menahan cairan bening yang ingin kembali meluncur di pipinya.

“Aku tahu kamu selalu memperhatikanku. Aku tahu kamu, meski kita tak pernah bicara, Dera”.

Melambung tinggi. Begitulah yang Dera rasakan. Tak kuat menahan rasa harunya lagi. Tetes demi tetes cairan itu kini membentuk sebuah sungai kecil di pelupuk matanya. Membuat lelaki itu tersenyum.

Dera mengerti. Tidak selamanya yang harus terjaga adalah kekasih dan tidak selamanya pula prasangka buruk itu benar. Ada kalanya saat kau mulai di kuasai amarah, disaat itulah kau tak bisa berpikir jernih.

9 thoughts on “Kamu.. Yang Kulihat Selama 48 Jam

Jangan lupa tinggalin jejak yah..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s