Lantai Tiga

                “Poppy!”.

Aku berbalik setelah mendengar seseorang memanggil namaku dengan kencang. Itu dia. Sena berdiri dengan senyuman lengkap dengan lesung pipi yang sangat dalam. Ia menghampiriku dan meraih bahuku. Masih tersenyum dengan senyuman yang sama. Wajahnya pucat. Bajunya penuh dengan keringat. Entahlah. Aku tak tahu apa yang dilakukannya hingga seperti ini.

“Kamu mau pulang?”. Tanyanya memecah keheningan.  Aku mengangguk pelan.

“Iya. Kamu? Kok kamu pucat? Belum makan?”. Tanyaku asal. Canggung mungkin.

“Aku tidak apa-apa. Kamu kenapa baru pulang jam segini? Ini kan jam 4 sore, sedangkan sekolah usai jam 2 tadi”.

“Ada bimbingan Kimia untuk Olimpiade bulan depan. Kamu sendiri?”. Sena nampak mematung. Senyumnya seketika pudar dari wajah cantiknya. Aku mengerutkan keningku. Apa yang terjadi?

“Tidak ada apa-apa. Ya sudah, sebaiknya kamu pulang. Sampai besok”.

Aneh, pikirku. Ia menjadi aneh sejak Kak Fay, pacarnya, meninggalkannya pindah ke Semarang. Baru kali ini aku melihat Sena pulang terlambat. Biasanya ia selalu lebih dulu pulang setelah bel berbunyi. Ya, ia memang murid manis dan lumayan cerdas. Tapi aku masih penasaran, apa gerangan yang ia lakukan? Mengapa ia pulang terlambat?

Baiklah, tak ada gunanya memikirkan orang lain. Poppy, kamu masih harus memikirkan kegiatan les tambahanmmu nanti malam.

*****

               Hari ke 26 di bulan Februari. Matahari bersinar terang. Aku menyusuri lantai tiga sekolah. Berjalan dengan harap-harap cemas kalau aku sampai tidak terpilih untuk mengikuti Olimpiade.

Sedetik kemudian, langkahku terhenti. Kudapati Sena duduk di sebuah kursi panjang dekat tangga. Masih sama seperti kemarin, ia nampak pucat dan lesu. Kepalanya tertunduk, bahunya bergetar. Nampaknya ia sedang menangis. Tapi kenapa?

Baiklah. Aku tak ingin mencampuri urusan orang lain. Terlebih lagi, Sena memang tidak terlalu akrab denganku. Kami berbicara hanya seperlunya saja meski kami sekelas.

Aku melangkah di hadapannya yang masih tertunduk dan pura-pura tak melihat bahwa ia sedang menangis. Namun, sepertinya ia menyadari kehadiranku dan langsung mengangkat kepalanya. Matanya sembab. Ia berusaha tersenyum dan menghapus sisa-sisa cairan bening di kedua pipinya. Aku terhenti.

“Kamu pulang lambat lagi, ya?”. Ujarnya. Aku menggangguk. Kucengkram erat buku yang kupegang.

“Iya. Aku duluan ya”.

Entahlah. Makin hari aku makin merasa bahwa ada yang ganjal pada Sena. Memang aku tak bermaksud untuk mencampuri kehidupannya, aku hanya cemas. Ia yang dulu periang dan selalu tersenyum, akhir-akhir menjadi anak yang pemurung. Bahkan senyum saja nampak sukar di dapatnya lagi.

Seperti dua hari kemarin, hari ini aku mendapati Sena di kursi yang sama. Tidak sedang menunduk. Ia nampak menerawang jauh, memandang lurus ke depan. Sorot matanya menandakan bahwa ia letih. Lagi-lagi.. Aku berpura-pura untuk tidak melihatnya dan sengaja memutar balik arahku dan menuju tangga sebelah utara. Aku tak ingin bicara dengan Sena hari ini.

Seusai bimbingan Olimpiade, aku bergegas turun ke lantai tiga. Kutarik nafasku kuat dan menghembuskannya pelan. Aku takut jika harus bertemu Sena lagi. Aku takut melihat wajahnya. Kadang.. Pikiranku seketika kacau saat melihatnya. Ia aneh, pikirku.

Bajunya yang lusuh, roknya yang tak karuan, wajahnya pucat dan matanya sembab. Penampilannya membuatku berpikir yang tidak-tidak. Ia selalu kelihatan letih. Tapi kenapa harus berada di lantai tiga? Kenapa ia harus pulang terlambat sepertiku? Dan kenapa ia berubah seperti itu? Sungguh, aku lebih memilih memainkan puzzle dari pada harus berada di dalam teka-teki ini.

Kakiku menyusuri lantai tiga dan melihat kursi panjang yang biasanya di duduki oleh Sena. Tidak hari ini. Sena tak berada disana. Kemana ia? Apakah ia sudah pulang?

Baru saja aku berniat untuk melangkah pulang, tiba-tiba aku mendengar sebuah ringisan yang berasal dari gudang di lantai tiga. Kutelan ludahku. Saraf-saraf otakku tak berjalan dengan lancar. Apa itu? Haruskah aku menengoknya dan memastikan apa yang terjadi?

Rasa penasaranku jauh lebih besar dan berhasil mengalahkan rasa takutku. Tak kusadari, kakiku sudah melangkah pelan menuju gudang sekolah. Aku gemetaran. Entah takut atau apa. Suara ringisan itu semakin keras. Semakin kencang dan membuat bulu kudukku berdiri. Perlahan kuputar knop pintu gudang itu. Pintunya berdecit kecil namun bukan berarti ringisan itu berhenti.

Sekali lagi, kutelan ludahku dan mempersiapkan diri dengan apa yang akan kulihat. Pintu terbuka sedikit lebar dan betapa terkejutnya aku saat kudapati Sena.. Sedang menahan tangis dengan kedua tangannya. Mulutku menganga, jantungku seakan ingin lari dan nafasku menderu.

“Sena”. Ucapku pelan hampir tak terdengar. Sena berbalik ke arahku, tak ada senyuman sedikitpun.

“Maafkan aku”. Ujarnya pelan seraya bangkit dari tempatnya duduk.

Aku tak mengerti apa sebenarnya yang telah terjadi. Ia merengkuhku erat dalam peluknya. Aku masih mematung. Mencoba mencerna apa yang kulihat. Alat kontrasepsi? Pengetes kehamilan dengan dua garis merah? Kain putih yang terkena bercak darah? Kurasa aku tahu jawabannya.

Sena masih menangis di pundakku. Membuat bajuku basah dengan air matanya. Ku usap pelan kepalanya, berusaha menenangkannya.

“Maafkan aku. Aku bersalah”. Katanya sesunggukan.

“Tak apa. Kau bisa jelaskan nanti, Sena”.

“Tidak! Aku salah! Aku hamil, Poppy! Bagaimana sekolah akan memperlakukanku nanti jika mereka tahu!? Bagaimana aku dimata kalian!? Aku hamil! Aku kotor!”. Sena meronta. Kudekap ia kembali ke pelukanku dan menenangkannya lagi. Ia terus menangis.

Satu jam sudah aku berada di gudang sekolah. Pintunya sengaja kukunci dari dalam agar tak ada seorangpun yang dapat mendengar pembicaraan kami. Sena membuat sebuah pengakuan. Ia menceritakan apa yang ia alami selama beberapa waktu silam.

Sudah kuduga, ini ada hubungannya dengan Kak Fay dan kepindahannya. Di lantai tiga, gudang sekolah. Tempat dimana Sena dan Kak Fay melakukannya. Entahlah. Atas dasar apa mereka berbuat seperti itu? Bahkan aku sampai tak habis pikir, seorang gadis manis seperti Sena, rela mengorbankan keperawanannya hanya demi lelaki keji seperti Kak Fay yang langsung pindah setelah kejadian ini!

Hanya satu alasan Sena mengapa ia selalu terlambat pulang ke rumah dan menyempatkan untuk masuk ke gudang lantai tiga. Ia hanya ingin Kak Fay kembali dan mempertanggung jawabkan hasil perbuatannya. Hanya itu. Sena benar-benar tak tahu harus apa.

Sepucuk kertas menjadi saksi pengakuan Sena atas kehamilannya serta kejadian yang terjadi bersama Kak Fay. Aku menemaninya menyelipkan surat itu di samping jendela ruang Kepala Sekolah yang kebetulan sedang kosong. Ia menghela nafasnya berat. Kutepuk pundaknya, berusaha memberinya semangat.

“Tak apa. Setelah ini, hiduplah tentram bersama dengan anakmu. Aku yakin, kau pasti bisa. Kabari aku selalu, ya”. Kataku lalu mendekapnya. Air mata kembali mengucur dari matanya.

 

Surat Pengakuan

 

               Saya bernama Sena Larasati. Lewat surat ini, saya ingin mengakui sebuah kesalahan. Kesalahan yang amat sangat besar. Saya sudah ternodai, Pak. Harap jangan mengumbar berita ini pada orang lain. Saya mohon. Saya hanya ingin hidup dengan suasana normal seperti biasanya. Saya akan pergi dari sekolah ini dan membersarkan anak saya, sehingga Bapak tidak perlu malu jikalau sekolah akan mendapatkan pandangan buruk di mata masyarakat.

Bukan hanya saya. Seorang lelaki yang amat sangat saya cintai juga termasuk didalamnya. Tapi saya mohon kepada Bapak. Saya mohon untuk tidak mencari lelaki itu dan membiarkannya hidup dengan tenang. Cukup saya yang merasakannya, Pak.

Sekian surat pengakuan yang saya buat, kiranya Bapak dapat menjaga kejadian ini agar tidak tersebar. Terima kasih.

 

9 thoughts on “Lantai Tiga

Jangan lupa tinggalin jejak yah..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s