Cinta Itu Punya Mata

 

 

“Subhanallah!”.

Spontan kukeluarkan kata itu dengan mimik wajah kaget bukan main. Ku elus pelan dadaku dan berusaha mengatur nafasku. Bukan aku baru pertama kali mendengarkan sesuatu seperti ini. Bukan. Aku hanya tak menyangka. Tak mengira kalau ini benar adanya.

“Iya. Ia menganiayaku, Mas Reno. Layaknya ia bukan dirinya lagi. Ia di kuasai setan!”. Tutur Fina, adik sepupuku yang baru-baru ini kutahu telah mendapat perlakuan yang kurang sopan dari pacarnya. Tian. Setahuku, hubungan mereka baik-baik saja meski akhir-akhir ini memang ada sedikit konflik tentang keluarga kami dan Tian.

Ia terus menangis di sampingku sedang aku terus berusaha menenangkannya. Tak ku sangka kalau Tian berani berbuat perlakuan keji terhadap adikku. Yang aku tahu, ia lelaki yang taat pada Agama. Jangankan memukul wanita, hewan kecil saja tak berani ia sakiti. Lantas apa yang membuatnya sampai punya pikiran pendek seperti ini?

“Kamu jangan sedih lagi. Jika benar Tian mencintaimu, Mas yakin kalau dia akan mencarimu dan meminta maaf padamu. Mungkin ia hanya emosi sesaat. Ingatlah perkataan Mas. Cinta itu punya mata”. Ujarku sembari melonatarkan senyuman kecil ke arah Fina yang di balasnya dengan isakan tangis yang mulai reda.

Keesokan harinya, tepat pukul 5 subuh, aku bangun dan mengambil air wudhu. Menunaikan shalat subuh berjamaah bersama dengan Ibu dan Fina. Ya, di rumah aku hanya tinggal dengan Ibu. Dan sekarang kami punya Fina.

“Assalamualaikum warahmatullah”. Salampun mengakhiri shalat kami. Setelah memanjatkan do’a, akupun menyalami Ibu dan Fina menyalamiku.

Aku bergegas menuju kamar dan membenahinya. Usai itu, aku duduk di teras depan rumah untuk menikmati udara pagi. Masih jam setengah 6 pagi. Ya, waktu yang baik untuk paru-paru.

Ini sudah hari ke-3, Fina berada di rumah kami. Ia amat trauma untuk kembali ke rumah. Memang Tian tidak tinggal serumah dengannya, tapi ia takut kalau Tian mencarinya disana lantas menyakitinya lagi. Baik batin maupun fisiknya.

Siang yang terik, aku duduk santai di depan tv bertemankan segelas kopi hangat. Alih-alih aku mendengar suara pintu yang di ketuk dengan tidak sabar. Dengan cepat, aku beranjak menuju arah pintu.

“Iya sia.. Tian?”. Mataku membelalak melihat sosok lelaki yang membuat Fina sampai tidak ingin kembali ke rumah. Bagaimana ia bisa tahu kalau Fina berada disini?

“Assalamualaikum, Mas Reno. Saya ingin bertemu Fina. Fina-nya ada?”. Entahlah. Aku bodoh atau memang aku tak bisa berbohong, tapi aku dengan mantap memanggil Fina untuk di temui oleh Tian.

Selang satu jam mereka berbincang serius, akhirnya senyuman Fina kembali merekah. Tian menggenggam erat bahu Fina, memberikan semangat baginya. Itulah Tian. Tidak akan rela kalau harus melihat Fina di dalam keterpurukan.

“Mas?”. Sahut Fina saat aku masih asyik melihat mereka berdua.

“Iya, Fin?”.

“Mas benar. Cinta itu punya mata. Meski terkadang mata itu tertutup oleh sesuatu yang gelap, tapi aku tahu kalau mata itu akan terbuka kembali dan melihat cahayanya yang terang. Tidak akan selamanya ia tertutup selagi cinta masih bersamanya”.

Ya, itulah mata cinta. Mata yang hanya bisa kau dapatkan saat kau sudah menemukan seseorang yang pantas untuk mendapatkan mata itu. Mata yang hanya bisa kau miliki saat kau tahu bagaimana cara melihat seseorang dengan hatimu. Mata cinta.

5 thoughts on “Cinta Itu Punya Mata

Jangan lupa tinggalin jejak yah..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s