Tepat Enam Bulan

 

          “Hai. Selamat hari jadi yang entah keberapa bulan. Aku selalu merindukanmu. Selalu”.

 

Tepat 6 bulan sudah waktu penantianku. Tepat 6 bulan pula kamu menjalani hubungan cintamu bersama kekasih barumu. Selama 6 bulan, tak ada yang berubah. Tak ada yang proggres dan tak ada yang aku lakukan selain menunggumu. Terus menunggumu bagai orang tolol meski kamu tertawa bersama orang lain.

Harusnya hari ini aku mengucapkan selamat atas hari jadi kita. Mestinya kita melakukan sesuatu bersama hari ini. Seperti bulan-bulan sebelumnya. Apakah kamu masih ingat?

6 bulan sebelum ini terjadi, setiap tanggal 19, kita selalu berusaha untuk membuat momen indah. Kamu selalu meluangkan waktumu untukku. Untuk kita. Begitu pula aku. Aku masih ingat jelas. Kala itu, kamu selalu sibuk, kamu jarang punya waktu untukku. Tapi setiap tanggal 19, kamu selalu menyisihkan beberapa jam waktumu yang berharga untuk memanjakanku. Mengucapkan selamat atas hubungan kita, membuatku tertawa dengan candamu dan tersipu karena pujianmu.

Berakhirnya hubungan kita pertanda berakhirnya ucapan-ucapan selamat di setiap tanggal 19. Membuatku merasa tercekik ketika harus menjalani setiap tanggal 19 sendirian. Aku merasa kosong. Aku merasa rindu.

Aku rindu saat bangun pagi dan mendapati pesan singkatmu di layar handphoneku. Aku juga rindu saat bertemu denganmu dan kamu membelai rambutku dengan lembut. Mengucapkan terima kasih atas cinta yang aku berikan. Apa aku sudah tak pantas mendapatkan semua itu?

Mungkin sekarang kamu telah melakukan hal-hal itu bersama gadis lain. Kamu mengucapkan selamat atas hubunganmu dengannya. Kamu meluangkan waktumu dengannya seharian. Kamu bahkan memberikannya hadiah kecil sama seperti yang kamu lakukan padaku dulu. Sama seperti yang kita lakukan 6 bulan yang lalu.

Jika boleh berkata jujur, aku sangat cemburu. Sangat. Aku butuh perhatianmu layaknya kamu memperhatikannya. Aku butuh kasih sayangmu layaknya kamu menyayanginya. Kemana semua itu?

Apa aku satu-satunya orang yang merindukan masa-masa ini?

Apa aku satu-satunya orang yang berharap hubungan kita dapat pulih kembali?

Sampai kapan kamu akan terus bersama dengannya?

Apa tidak cukup kamu membuatku menunggu selama ini?

Ah.. Entahlah. aku tidak tahu harus berapa lama lagi aku menunggumu. Aku tak tahu harus sampai kapan aku terus menjadi orang yang bodoh. Selalu menanti kamu kembali dengan sabarnya. Aku tahu. Aku sangat tahu bahwa kamu sudah bahagia dengannya. Aku mengerti. Tapi dosakah aku untuk mencintaimu?

Aku tak punya banyak permintaan. Bukan. Aku tidak memintamu untuk kembali padaku. Aku juga tak memintamu untuk memerhatikanku lagi. Aku hanya ingin.. Kamu menjadi dirimu sendiri. Jangan pernah mengulangi kesahalan yang sama padanya. Jangan merubah jati dirinya dan jangan pernah coba membuatnya bersedih hanya karena rasa egomu yang besar.

Klise memang, tapi inilah yang aku inginkan. Tolong.. Jangan pernah menungguku. Jangan pernah diam-diam  mencuri pandang padaku lagi. Jangan pernah membuatku merasa bersalah. Cukup aku yang merindukanmu. Cukup aku yang melihatmu dari kejauhan dan cukup aku yang tersakiti.

Oh.. Sekali lagi, selamat hari jadi yang gagal. Aku merindukanmu.

 

Dari gadis yang senang membuang

waktunya untuk menunggu kepulanganmu.

Jangan lupa tinggalin jejak yah..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s