Aku Bukan Untukmu

                “Jangan pernah hiraukan aku. Aku bukan seseorang yang pantas untuk kau bahagiakan”.

 

Dahulu kau mencintaiku

Dahulu kau menginginkanku

Meskipun tak pernah ada jawabku

Tak berniat kau tinggalkan aku

 

Aku termangu. Aku terdiam lantas terus mendengar senandung lagu menyakitkan itu. Aku tak tahu mengapa tiba-tiba aku ingin mendengarnya. Sungguh.. Aku tidak tahu.

Alunan lembut pianonya seakan menyuruhku untuk lebih dalam menelusuri kubangan masa lalu. Memaksaku memutar semua memori indah kita. Memerintahku untuk berpikir tentang kamu. Syairnya yang teramat dalam juga membuatku larut dalam kesedihan. Sejenak aku berpikir, apa lagu itu mendeskripsikan ceritaku saat ini?

Aku benci saat aku mulai berpikiran yang tidak-tidak padahal aku tahu bahwa kamu tak mungkin mengingkari janjimu. Aku sangat tidak suka saat batinku mulai meronta padahal kamu selalu terlihat baik-baik saja dari kejauhan. Semua rasa ini berkecamuk di dalam dadaku. Meminta untuk dilepaskan.

Aku dilema. Ya, dilema.

Aku butuh bantuan untuk melupakanmu. Aku butuh seseorang yang dapat membuatku kembali tersenyum. Aku butuh penggantimu. Aku ingin membuat memori baru bersama orang lain. Akupun ingin berusaha tertawa lepas bersama orang itu. Tapi mengapa sangat sukar saat kucoba? Mengapa aku tak bisa tersenyum dengan ikhlas bersamanya? Tidak seperti kamu dan kekasihmu.

Ah.. Aku sangat iri melihat kalian berdua. Sangat akrab. Sangat dekat. Saling mencintai satu sama lain tanpa melirik aku yang bahkan masih mencintaimu.

 

Sekarang kau pergi menjauh

Sekarang kau tinggalkan aku

Disaat ku mulai mengharapkanmu

Dan ku mohon maafkan aku

 

Aku masih mematung di tengah alunan lagu sendu itu. Bibirku ingin ikut bernyanyi tapi sayang tak bisa kulakukan. Kelopak mataku mulai dibenangi oleh sungai-sungai kecil. Membendung di satu titik dan akan segera meluap.

Aku masih ingat. Dahulu, akan selalu ada tangan dengan kulit kecoklatan yang siap untuk mengusap lembut air mataku. Akan selalu ada bahu yang tegap untukku bersandar. Dan akan selalu ada sorot mata tenang yang melihatku dalam damai. Membuatku merasa bahwa akulah gadis yang paling beruntung di muka bumi.

Sekarang, aku mengusap air mataku sendiri. Memeluk erat bahuku sendiri dan menutup erat kedua mataku. Menangis pilu sedang lagu itu terus tergiang di kepalaku.

 

Aku menyesal telah membuatmu menangis

Dan biarkan memilih yang lain

Tapi jangan pernah kau dustai takdirmu

Pasti itu terbaik untukmu

 

Tak pernah terbesit di pikiranku untuk berusaha menghindari bayangmu. Karena aku tahu aku tak dapat hidup tanpanya. Dadaku akan sesak tanpanya.

Ya, aku tahu bahwa kamu sudah cukup bahagia sekarang. Aku sama sekali tidak menyesal atas segala yang terjadi. Aku lega setelah tahu kamu menemukan seseorang yang dapat menggantikan posisiku. Aku dapat bernafas dengan tenang. Kamu sendiri tahu, yang terpenting adalah asal kamu dapat bahagia. Meski itu berarti akan membuatku sakit.

Sekali lagi, air mata meluncur dengan mulusnya di pipiku. Mataku sudah tak sanggup menahan bendungan yang roboh. Bulir demi bulir terjatuh lembut di tanganku. Aku hanya bisa menggigit kuat bibirku. Berusaha menahan jeritan yang akan segera keluar. Berusaha menahan sakit yang teramat sangat.

Kupeluk erat tubuhku. Aku bisa merasakan guncangan keras di kedua bahuku. Aku sangat kesakitan tapi takkan ada seorangpun yang peduli meski aku mengemis pada mereka.

 

Janganlah lagi kau mengingatku kembali

Aku bukanlah untukmu

Meski ku memohon dan meminta hatimu

Jangan pernah tinggalkan dirinya untuk diriku

Aku memaksa kakiku berdiri saat alunan lagu itu mulai memelan. Kupegang dadaku yang sesak. Aku melangkah gontai dan terus mengingat namamu.

Apa kamu sudah bahagia sekarang?

Apa kamu sudah tak membutuhkanku?

Apa kamu sudah tak peduli tentangku?

Kuharap kamu akan menjawab “Iya” untuk semua pertanyaanku karena aku sudah berada di batas. Batas untuk menunggumu.

Tolong.. Dengarkan permintaanku. Hiduplah dengan baik bersamanya. Buatlah kenangan-kenangan manis yang bisa kalian buat. Bepergianlah ke tempat-tempat romantis bersamanya dan jangan pernah mengingatku. Jangan pernah mencariku.

Jika suatu hari kamu melihatku berjalan sendirian dengan mata sembab, jangan pernah memanggilku. Jangan pernah menegurku. Biarkan aku berlalu di depan kalian. Tetap diam dan rengkuh tubuhnya di dalam pelukmu karena saat itu aku bukanlah siapa-siapa.

Tolong.. Jangan tinggalkan gadismu. Meski aku berlutut lantas memintamu kembali padaku, tolong jangan pernah berpaling padanya. Jangan hiraukan aku karena aku bukan seseorang yang pantas menjadi tempatmu kembali.

 

Dari gadis bermata sayu

dengan tumpukan kenangan di kelopaknya..

4 thoughts on “Aku Bukan Untukmu

  1. Rossa: Aku bukan untukmu
    Semakin hari ceritanya semakin pilu aja,
    Kisah nyata apa fiksi nih, dek Sinar?
    Bagus lho, mending dibukukan saja.🙂 #saran aja sih

Jangan lupa tinggalin jejak yah..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s