Aku, Kamu dan Dia

            “Aku selalu melihat kamu. Kamu selalu melihat dia”.

 

Apa benar dunia hanya selebar daun kelor? Apa benar kita hanya berpacu pada satu kejadian? Apa benar bahwa aku tak bisa bertemu orang lain? Jika salah, mengapa aku hanya bisa melihatmu?

Kamu sudah membutakan aku.

Siapapun yang kulihat adalah kamu. Siapapun yang kujumpai adalah kamu. Kamu selalu mengganggu penglihatanku. Membuatku buta terhadap apapun. Kamu selalu terlihat di kedua bola mataku. Berlalu lalang seenaknya dengan senyum sok bahagiamu itu. Tertawa bersama teman-temanmu lantas tak mengganggapku ada.

Aku sudah cukup lelah melihatmu di setiap hari-hariku. Mengapa kamu tak mencoba untuk menghilang saja?

Ya.. Aku sudah mencoba hal itu. Tapi tiap kucoba, selalu gagal dengan sukses. Semakin aku ingin menghilang, semakin aku merasa rindu. Labil memang tapi itulah yang kurasa.

Aku melihatmu, tapi kamu melihat orang lain. Kamu melihat dia.

Kamu sudah membuatku tuli.

Apapun yang kudengar selalu kamu. Siapapun yang berbicara padaku selalu kamu. Mereka selalu menyebut namamu di sekitarku. Mereka selalu mengungkitmu tiap kali bertemu aku. Apa aku dilarang untuk mendengar hal lain? Apa mereka kurang puas melihatku terpuruk karenamu?

Kamu membuatku tuli dengan suaramu yang lembut. Dengan suaramu yang selalu menutup hariku di setiap malamnya. Dengan suaramu yang selalu memanggil namaku dengan manis. Kamu mencoba membunuh saraf-saraf pendengaranku secara perlahan.

Semua orang menyebut namamu. Semua orang membuatku mendengar tentang kabarmu yang tak ingin kudengar. Aku terlalu penat untuk memikul beban ini sendiri.

Aku mendengarmu, tapi kamu mendengar orang lain. Kamu mendengar dia.

Kamu sudah membuatku amnesia.

Entah apa yang membuatku cepat melupakan hal-hal lain bersama orang lain namun tak pernah bisa membuatku lupa tentang apa saja yang pernah kita lakukan. Kamu berhasil membuatku amnesia dengan segala sesuatu yang tidak ada hubungannya denganmu. Kamu menyiksaku dengan beribu kenangan indah yang kamu buat bersamaku.

Apa belum cukup untukmu untuk membuatku tuli dan buta? Lantas kamu melumpuhkan ingatanku?

Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk benar-benar melupakanmu bersama dengan kenanganmu. Sungguh.. Aku selalu ingin melupakannya. Aku ingin membuat kenangan baru bersama orang lain. Tapi saat kucoba, hasilnya selalu sama. Kenangan itu terhapus. Hilang. Sirna tertindih kenangan milikmu.

Aku mengingatmu, tapi kamu mengingat orang lain. Kamu mengingat dia.

Katamu kamu sayang. Katamu kamu cinta. Tapi saat kutagih janjimu, apa pernah bibirmu mengatakan hal yang sama?

Tolong.. Sudah cukup. Sudah cukup kamu membuatku sakit. Mengapa kamu tidak berhenti saja dan membiarkan aku dimiliki pria lain? Aku cukup tahu bahwa kamu milik wanita lain. Aku cukup tahu bahwa kamu sudah tidak peduli padaku. Akupun cukup tahu bahwa kamu selalu menyayanginya, bukan aku.

Berhentilah membohongiku karena aku tahu kamu sedangkan kamu mengetahui orang lain. Kamu tahu dia.

 

Dari gadis yang datang padamu tanpa kata halo

Dan pergi darimu tanpa selamat tinggal..

15 thoughts on “Aku, Kamu dan Dia

Jangan lupa tinggalin jejak yah..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s