Sebingkis Kenangan, Berbalut Rindu

“Karena kusimpan rapi setiap potongan kisah masa lalu kita yang berharga di tempat ini”.

 

 

Pena yang dulu sering kugunakan untuk menuliskan namamu kini mulai memudar tintanya hingga kuputuskan untuk tak menggunakannya lagi. Kusimpan dengan baik. Kujaga seperti halnya menjaga hatimu. Hal kecil tentangmu sudah sangatlah lazim bagiku untuk kusimpan dan kurawat. Apapun yang mengingatkanku tentangmu haruslah kukenang lantas ku abadikan. Ya, berlebihan mungkin, tapi aku menyukainya.

Sama seperti hari ini, meski aku tahu bahwa percintaan kita sudah terhenti, aku masih menyimpan semua hal yang berhubungan denganmu,  termasuk kenangan kita. Dulu, aku berjanji untuk menjaganya untukmu, aku berusaha untuk mengenangnya lantas mulai belajar mengikhlaskan kepergianmu. Ya, apalah arti kenangan tanpamu, bagiku.

Aku memang payah dalam hal melupakan, membenci dan menghindarimu. Nihil. Seolah diperintah, mataku selalu sibuk mencarimu seharian, otakku tak henti memikirkanmu disetiap malamku. Sedang apa kamu? Bersama siapa? Apa kamu sudah makan? Bagaimana kesehatanmu tanpaku yang setia mengingatkanmu? Masihkah kamu peduli pada dirimu sendiri?

Bukan aku sok memerhatikanmu, aku hanya tak bisa membiasakan diriku tak kamu lihat, tak kamu sentuh dan tak kamu pikirkan. Aku memang egois dengan semua permintaan anehku saat kamu masih menyandang status sebagai lelakiku. Rasa memiliki yang teramat sangat besar membuatku lupa akan situasi sehingga membuatmu mulai melakukan ini-itu hanya untukku. Tapi, dosakah aku jika aku ingin memperbaikinya?

Satu kata yang bisa mendeskripsikanku saat ini. Rindu.

Benar, aku rindu. Aku rindu padamu. Mungkin sudah terlambat untukku mengatakan bahwa aku merindukanmu dengan senyuman manismu yang disusul dengan pelukan kecil nan hangat. Aku sangat merasa kehilangan. Kamu mencekik setiap oksigen yang kuhirup dengan kepergianmu. Meninggalkan bekas-bekas cinta yang mulai samar dan dengan tidak tahu dirinya aku masih mengurung diriku sendiri dengan cinta masa lalumu.

Aku tidak tahu bahwa cinta sebegini rumitnya. Aku terombang-ambing. Tercabik-cabik kenangan masa lalumu. Menyayatku perlahan-lahan. Sakit memang, tapi aku menikmatinya.

Dan disinilah aku berdiri, gadis bodoh dari sepotong kisah masa lalumu. Memegang sebuah kotak berwarna emas. Berusaha terlihat tegar dengan mata yang masih setengah sembab. Mengusap sendiri bulir air mata yang terjatuh. Berupaya berdiri di kaki sendiri dengan kamu didepannya yang tengah menggandeng lengan wanita lain.

Inilah aku dengan berjuta kenangan di belakangnya.

Hanya ini yang bisa kuberikan untukmu. Sebingkis kenangan, berbalut rindu. Dibungkus dengan air mata dan harapan. Disertai doa dan keinginan untuk bahagiamu. Aku tak mengharapkan kata terima kasih darimu, aku hanya memintamu untuk menjaga hadiah kecilku. Rawatlah dengan baik. Karena aku yakin, suatu saat nanti kamu akan merindukanku.

 

Dariku yang mencintaimu dengan beribu

alasan dan meninggalkanmu dengan satu bingkisan..

3 thoughts on “Sebingkis Kenangan, Berbalut Rindu

Jangan lupa tinggalin jejak yah..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s