Aku Seperti Kamu

“Karena hati yang mengikat kita”.

 

Kamu bukan saudaraku, tapi kita terlihat mirip. Kamu bukan sahabat karibku, tapi kita nampak cocok. Kamupun bukan kawan lamaku, tapi kita begitu klop saat bertemu meski pernah terpisah dalam waktu yang lama. Ya, kamu pria di masa laluku.

Kamu datang di waktu yang tepat. Sangat tepat hingga membuatku mulai terlena oleh hadirmu. Sekarang aku tahu mengapa orang lain berkata bahwa kita terlihat sama. Ya, aku kini tahu. Aku dan kamu terlalu mirip. Aku dan kamu punya banyak kesamaan. Kesamaan yang terbentuk akibat hubungan di masa lampau. Kesamaan yang begitu indah untukku.

Dulu aku tak membenarkan kata pepatah; “Wajah yang mirip itu biasanya jodoh”, namun sekarang aku sangat percaya akan hal itu. Terdengar sangat kekanak-kanakan, mungkin. Tapi aku yakin bahwa Tuhan menjodohkanku denganmu. Entahlah. Kamu selalu berhasil membuatku nampak bodoh dengan segala pemikiran dangkalku. Kamu selalu membuat aku berpikiran bahkan melakukan hal konyol. Tapi bukankah cinta memang seperti itu? Ia akan membuat seseorang seakan lupa terhadap dirinya sendiri. Ia tega membuat seseorang melakukan hal-hal diluar kendali mereka. Sama sepertiku.

Aku seperti kamu.

Bukan hanya sifat, sikap dan pemikiranku. Kamu seperti duplikatku. Aku seperti duplikatmu. Kita seperti saudara kembar identik yang mengerti satu sama lain. Jika aku terluka, kamupun begitu. Saat aku bahagia, kamupun begitu. Sekarang aku mulai bertanya-tanya, bukankah kamu melakukannya atas dasar cinta kepadaku?

Kuharap jawabanmu adalah iya. Kita terlalu mirip sehingga aku tak bisa menemukan letak kesalahan kita. Mengapa kita berpisah? Kenapa kamu tak melarangku saaat aku pergi? Atau sekedar menghentikanku? Kenapa kamu hanya diam saat melihatku menggandeng lengan pria lain? Tidakkah kamu merasakan sakit dihatimu?

Tetap saja, aku seperti kamu.

Kamu selalu tertutup, sama sepertiku. Kamu menyembunyikan isi hatimu dan berusaha bertingkah seperti biasa. Seolah-olah tak terjadi apa-apa padamu. Seakan kamu baik-baik saja disaat aku tengah dirangkul orang lain. Batinmu terus meronta tapi tak kamu pedulikan. Diam-diam kamu meneriakkan namaku, kadang bahkan menangis pilu sendiri. Benar, kan?

Sayang, kamu terlalu mencintaiku. Begitupun aku. Ikatan kita bukan sekedar hubungan biasa. Bukan sekedar kesamaan yang tak ada arti. Bukan pula omong kosong belaka.

Aku selalu terlambat untuk mengucap kata menyesal padamu. Aku sudah sangat terlambat untuk meminta maaf padamu. Sungguh, akulah gadis bodohmu yang mengharapkan kesamaan kita terjalin kembali. Bagaimanapun itu, aku tetap sepertimu, dan kamu tetap sepertiku.

 

Ditulis oleh gadis yang

terlihat sepertimu..

Jangan lupa tinggalin jejak yah..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s