Izinkan Aku Merindukanmu

“Dosakah aku untuk merindumu?”

 

Aku percaya setiap orang punya orang lain untuk di rindukan. Masing-masing dari mereka punya seorang yang istimewa dalam hidup. Begitu pula aku, dan jika kamu bertanya siapakah orangnya, sudah pastilah itu dirimu. Akan menjadi kesalahan besar jika bukan kamu lelakiku.

Kita memang bukan sepasang kekasih. Tak di hubungkan oleh tali cinta atau ikatan asmara. Aku hanyalah penikmat pesonamu dari jauh yang siap kapan saja untuk kamu lihat, kamu rasakan dan kamu sentuh hatinya. Tentu tidaklah tabu untuk mencintai tanpa memberitahu, kan? Sungguh, aku belum bisa mengakui betapa sayangnya aku padamu. Begitu banyak wanita yang mengelilingimu dan aku sudah kalah sebelum bertanding. Aku lemah. Aku terlalu takut.

Sayang, kamu adalah racun dalam hidupku. Kamu meracuni pikiranku dengan wajah manismu lantas tak mau hilang. Kamu meracuni mataku dengan peringai tampanmu. Kamu juga meracuni hatiku dengan sejuta kehangatan parasmu seakan kamulah satu-satunya racun terindah yang pernah aku rasakan. Aku mungkin terlihat tak tahu diri dengan semua kata-kata yang ku rangkai tak beraturan ini. Tapi ketahuilah, aku hanya tak mampu memendam rasa tak jelas ini sendiri dengan hati yang masih terlalu polos. Aku ingin kamu tahu. Bukan dariku, tapi dari tulisanku.

Sekarang mungkin aku masih bisa melihatmu. Aku masih bisa mendengar suaramu dan mungkin pula aku masih bisa menahan perasaanku yang kian hari kian membesar ini. Tapi sampai kapankah itu? Akankah selamanya aku bertahan? Kuatkah aku melaluinya sendiri?

Entah sudah berapa kali pertanyaan yang sama ku lontarkan pada diriku sendiri. Mungkin jawabannya iya, mungkin juga tidak. Ah, aku masih binngung.

Kamu tak perlu khawatir padaku untuk sementara waktu. Aku masih betah dengan keadaan yang rumit ini. Aku masih senang menikmati keindahanmu meski tak bisa ku sentuh, Hanya kamu alasan tawa dan tangisku saat keadaan sekitar tak merestui hatiku untukmu. Itu mengapa aku tak pernah mengumbar apa yang kurasakan. Aku tak berani mengakuinya pada dunia. Aku takut di tertawakan. Kamu bak pangeran tampan di negeri dongeng sedang aku hanyalah rakyat kerajaanmu yang bahkan tak kamu ingat namanya. Bukankah perbedaan itu terlalu besar bagiku?

Ya, sekali lagi kutegaskan, aku masih sangat menikmati keadaan ini. Biarlah aku yang tahu. Cukup aku yang merasakan. Mungkin belum sekarang untukmu. Mungkin nanti. Mungkin lain hari. Dan mungkin bila saatnya tiba, aku bukanlah salah satu dari pemuja cintamu lagi.

 

Untukmu, racun ternikmat yang

di berikan Tuhan padaku..

Jangan lupa tinggalin jejak yah..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s