Baru Kurasa Kehilanganmu

“Baru sekarang kurasa sakitnya. Baru sekarang kurasa kehilanganmu.”

 

Sehari berlalu semenjak aku hilang fokus. Perkataan orang-orang mulai terdengar di telingaku. Pikiranku mulai bekerja kembali saat bibir mereka mengucapkan sumpah serapah di hadapanku. Aku mulai sadar, semua yang mereka katakan tentangmu sangatlah benar.

Mereka bilang, kamu sangat menginginkanku.

Aku seperti perempuan pada umumnya. Dengan rambut hitam dan tangan gemulai. Perawakanku bahkan jauh dari kata menggoda. Namun bagimu, akulah wanita ideal. Aku bingung, dari sudut pandang manakah kamu menilaiku? Kukira kamu hanya membual. Kukira kamu hanya memberiku surga telinga. Tapi tidak. Kamu bersungguh-sungguh. Kamu membuktikan ucapanmu dengan hasrat memilikiku seutuhnya.

Mereka bilang, kamu sangat mencintaiku.

Entahlah. Aku bahkan tidak mengerti apa yang membuatku istimewa di matamu. Aku tidak tahu mengapa kamu dengan mudahnya melakukan apa saja demiku. Kamu begitu peduli padaku layaknya akulah lumbung kebahagiaanmu. Kamu bahkan tak pernah absen untuk mengucapkan kata sayangmu saat aku akan menutup hariku. Ya, aku ingat saat kamu bilang bahwa kamu takkan pernah bosan untuk mencintaiku.

Mereka bilang, kamu sangat beruntung.

Dipertemukan denganku adalah sebuah keberuntungan besar buatmu. Setidaknya itulah yang sering kudengar dari mereka. Orang-orang yang nampak bahagia dengan kita. Bukan karena aku menyandang predikat sebagai gadis baik-baik. Bukan pula karena statusmu yang bisa di bilang lelaki idaman wanita. Hanya saja kita saling melengkapi satu sama lain dan itulah keberuntungan terindah yang pernah Tuhan berikan pada kita.

Mereka bilang, kamu terlalu mencintaiku.

Setiap hubungan punya masalahnya sendiri. Begitu pula dengan kita. Kamu mulai bertingkah berlebihan. Kamu mulai merasa bahwa aku adalah segalanya dan segalanya adalah aku. Tak salah memang, tapi ketahuilah, aku bukanlah manusia sempurna. Sikapmu yang melampaui batas wajar akhirnya membuatku lelah. Jauh berada di titik kejenuhanku

Mereka bilang, kita harus berpisah.

Aku dan kamu sangat keras kepala. Kamu dengan konsisten dan egomu. Aku dengan keras hatiku. Jalan yang harus di ambil adalah perpisahan. Bukan mauku, bukan maumu, tapi mau hubungan kita. Aku tak bisa membayangkan bagaimana nasib cinta ini jika kita tetap memaksakan kehendak. Pada akhirnya, kamu dengan jalanmu, aku dengan jalanku.

 

Memang tak berdosa untuk merindumu. Aku tahu betul perasaanku yang masih meluap untukmu. Namun perkataan mereka selalu terngiang di kepalaku. Aku baru tahu rasanya kehilangan saat kamu benar-benar tak ada lagi di sampingku. Aku baru tahu sebegini sakitnya jika tak ada kamu.

Kalau saja hari itu kita tak dipertemukan, apakah sekarang aku akan sesakit ini?

 

Di tulis ditengah kebingungan

hati karena merindu..

 

Jangan lupa tinggalin jejak yah..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s